Asuhan Keperawatan pada Gangguan Diri

Asuhan Keperawatan Pada

Gangguan Konsep Diri
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian terhadap masalah konsep diri berfokus pada lima komponen konsep diri, yaitu citra tubuh, ideal diri, harga diri dan penampilan peran. Perawat perlu mengidentifiikasi berbagai aspek yang mempengaruhi konsep diri pasien, misalnya pola konsep diri, pola berhubungan atau peran, pola reproduksi, koping terhadap stres, serta terrdapatnya tanda-tanda ke arah perubahan fisik. (Sunaryo. 2004)

2. Diagnosis Keperawatan
Secara umum, diagnosis keperawatan yang berkaitan langsung dengan konsep diri adalah:

a. Gangguan citra tubuh, berhubungan dengan:
Perubahan fisik atau penampilan, misalnya akibat kehilangan anggota tubuh   kehilangan anggota tubuh, kehilangan fungsi tubuh,  penyakit kronis, pembedahan, kemoterapi, hospitalisasi, dan penuaan.
Persepsi yang tidak realistis tantang penampilan, misalnya pada penderita bulimia, anoreksia nervosa, dan psikosis.
Trauma fisik, misalnya akibat penganiayaan atau pelecehan seksual dan pemerkosaan.
Pengaruh sesuatu pada penampilan, misalnya kehamilan, imobilitas, dan obesitas.

b. Harga diri rendah kronis, berhubungan dengan:
Perubahan penampilan, gaya hidup, peran, dan respons orang lain, misalnya akibat kehilangan anggota tubuh, kehilangan fungsi tubuh, penyakit kronis, pembedahan, kemoterapi, hospitaliasi, penuaan, dan trauma berat.
Perasaan terabaikan atau gagal, misalnya akibat penceraian, perpisahan, atau kehilangan pekerjaan.
Kehamilan remaja.
Pengalaman mengalami tindak kekerasan oleh orang terdekat.
Kehilangan peran dan tanggung jawab.
(Sunaryo. 2004)



3. Rencana dan Tindakan Keperawatan
Rencana  dan tindakan yang dapat di lakukan untuk pasien dengan masalah konsep diri antara  lain sebagai berikut:

a. Meningkatkan atau memperbaiki citra tubuh pasien
1) Ciptakan hubungan saling percaya
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya, terutama tentang perasaan, pikiran, dan pandangan pasien terhadap dirinya sendiri.
Ajari pasien tentang strategi koping untuk menghaapi masalah emosi seperti rasa berrmusuhan, takut, berduka, dan ketergantungan.
Dorong pasien untuk mengajukan pertanyaan tentang penyakit yang dideritanya.
Berikan informasi yang terpercaya kepada pasien.
Hindari melontarkan kritik kepada pasien. 
2) Tingkatkan interaksi sosial pasien
Dorong pasien untuk melakukan aktivitas.
Hindari upaya perlindungan yang berlebihan terhadap pasien, tetapi batasi tuntutan yang dibuat utuknya.
Bantu pasien untuk menerima keadaan dirinya dan menerima pertolongan dari orang lain.
Beri pasien kesempatan untuk berbagi pengalaman bersama orang-orang yang pernah mengalami kejadian serupa dengan dirinya.
Beri pasien kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab perawatan diri secara bertahap, jika memungkinkan.
Bagi pasien yang kehilangan anggota atau fungsi tubuh, berikan pemahaman tentang arti kehilangan, gali alternatif yang realistis, dan dukung pasien. 
 
b. Meningkatkan harga diri pasien
Bantu pasien mengurangi tingkat kecemasannya saat ini
Beri kesadaran pada pasien akan pentingnya keinginan atau semangat hidup yang tinggi.
Beri dukungan pada pasien untuk melakukan aktifitas fisik yang baik dan berikan umpan balik yang positif serta realisasi untuk prestasi yang diraih. Jangan menghakimi pasien.
Beri kesempatan pasien untuk melakukan aktifitas sosial yang positif. Jangan biarkan pasien megisolasi diri.
Sertakan pasien dalam terapi kelompok pendukung.

c. Meningkatkan atau memperbaiki peran pasien
Bantu pasien dalam meningkatkan kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran.
Pertahankan konsistensi terhadap peran yang di lakukan.
Bantu pasien dalam menyelaraskan antara budaya serta harapan dan perilaku peran.
Bantu pasien menyesuaikan diri dengan peran yang diembannnya.
(Sunaryo. 2004)

4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah konsep diri secara umum dapat dinilai dari kemampuan untuk:
a. Menerima keadaan diri, penampilan, serta keterbatasan yang ada
b. Menghadapi diri sendiri dan bebas dari berbagai gejala  depresi
c. Menjalankan kembali tanggung jawab yang sesuai dengan perannya.
d. Menunjukkan identitas diri.
e. Memulai hubungan yang yang baru atau membangun kembali hubungan dengan sistem pendukung ada. 
(Sunaryo. 2004)

Komentar