Asuhan Keperawatan Sosial Budaya
ANALISA KASUS
Seorang bayi laki – laki, usia 14 hari, suku Madura, beragama Islam dibawa orang tua ke Politumbuh kembang untuk periksa tumbuh kembang. Orang tua pasien mengatakan berat badan (BB) bayi menurun. Hasil pengkajian didapatkan BB bayi 2500 gram (BB lahir 3100 gram), terlihat kurus, rewel, menangis lemah. Ibu pasien mengatakan mereka tinggal bersama keluarga besar suami dan merawat bersama bayi. Bayi tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa air susu ibu(ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan di persepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik.
PENGKAJIAN
Identitas Pasien
Nama pasien : By “A”
Usia : 14 Hari
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : -
Suku : Madura
Bangsa : Indonsia
Identitas Penanggung Jawab
Nama pasien : Tn “B”
Usia : 28 Tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Madura
Bangsa : Indonesia
SUNRISE MODEL (LEINENGER)
1. Faktor Teknologi
Pasien tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa ASI berwarna kuning adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan dipersepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik
2. Faktor Agama Dan Falsafah Hidup
Pasien beragama islam
3. Faktor Sosial Dan Keterikatan Keluargaan
Anggota keluarga mengasuh bayi bersama-sama. Hal ini dibuktikan dengan adanya seorang nenek yang memberikan saran untuk menyuap bayi dengan nasi lembek dan pisang agar bayi tidak menangis.
4. Faktor Nilai-Nilai Budaya Dan Gaya Hidup
Bayi tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa air susu ibu(ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan di persepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik.
5. Faktor Politik
-
6. Faktor Ekonomi
-
7. Faktor Pendidikan
-
ANALISA DATA
1. Ketidakmampuan koping keluarga (SDKI; hal: 204, 2017)
Ds: nenek pasien mengatakan bahwa Air Susu Ibu (ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi.
Do: Bayi tidak mendapatkan kolostrum
Pola koping yang berbeda anara kalien dan orang dekat
DIAGNOSAKEPERAWATAN
1. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat dibuktikan dengan tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga (SDKI ; hal : 204, 2017)
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam kepada pasien By “A” maka diharapkan status koping keluarga dengan kriteria hasil :
- Komunikasi antar anggota keluarga (2)
- Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga (2)
-Perilaku mengabaikan anggota keluarga (4)
Lingkungan koping keluarga
Seorang bayi laki – laki, usia 14 hari, suku Madura, beragama Islam dibawa orang tua ke Politumbuh kembang untuk periksa tumbuh kembang. Orang tua pasien mengatakan berat badan (BB) bayi menurun. Hasil pengkajian didapatkan BB bayi 2500 gram (BB lahir 3100 gram), terlihat kurus, rewel, menangis lemah. Ibu pasien mengatakan mereka tinggal bersama keluarga besar suami dan merawat bersama bayi. Bayi tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa air susu ibu(ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan di persepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik.
PENGKAJIAN
Identitas Pasien
Nama pasien : By “A”
Usia : 14 Hari
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : -
Suku : Madura
Bangsa : Indonsia
Identitas Penanggung Jawab
Nama pasien : Tn “B”
Usia : 28 Tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Madura
Bangsa : Indonesia
SUNRISE MODEL (LEINENGER)
1. Faktor Teknologi
Pasien tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa ASI berwarna kuning adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan dipersepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik
2. Faktor Agama Dan Falsafah Hidup
Pasien beragama islam
3. Faktor Sosial Dan Keterikatan Keluargaan
Anggota keluarga mengasuh bayi bersama-sama. Hal ini dibuktikan dengan adanya seorang nenek yang memberikan saran untuk menyuap bayi dengan nasi lembek dan pisang agar bayi tidak menangis.
4. Faktor Nilai-Nilai Budaya Dan Gaya Hidup
Bayi tidak mendapatkan kolostrum karena nenek pasien mengatakan bahwa air susu ibu(ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi. Pasien sering menangis dan di persepsikan bahwa pasien lapar. Nenek menyarankan untuk di suap nasi lembek dan pisang tetapi ibu pasien menolak sehingga menimbulkan konflik.
5. Faktor Politik
-
6. Faktor Ekonomi
-
7. Faktor Pendidikan
-
ANALISA DATA
1. Ketidakmampuan koping keluarga (SDKI; hal: 204, 2017)
Ds: nenek pasien mengatakan bahwa Air Susu Ibu (ASI) yang berwarna kuning itu adalah ASI basi.
Do: Bayi tidak mendapatkan kolostrum
Pola koping yang berbeda anara kalien dan orang dekat
DIAGNOSAKEPERAWATAN
1. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat dibuktikan dengan tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga (SDKI ; hal : 204, 2017)
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam kepada pasien By “A” maka diharapkan status koping keluarga dengan kriteria hasil :
- Komunikasi antar anggota keluarga (2)
- Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga (2)
-Perilaku mengabaikan anggota keluarga (4)
Lingkungan koping keluarga
Komentar
Posting Komentar